Geledah Kamar Gatot Brajamusti, Ini Barang Bukti yang Disita

---Polisi menemukan sejumlah barang bukti terkait dugaan penyalahgunaan narkotika di rumah milik Ketua Umum Parfi, Gatot Brajamusti di Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Barang bukti yang disita. (Fhoto:Ari S/Sindonews)---
sukabumiNews, JAKARTA - Setelah ditangkap polisi terkait dugaan ketelibatan penyalahgunaan narkotika. Polisi melakukan penggeledahan di kamar rumah milik Ketua Umum Persatuan Artis Film Indonesia (Parfi), Gatot Brajamusti di kawasan Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Polisi pun menemukan barang bukti terkait dugaan penyalahgunaan narkotika itu.

Kasat Narkoba Polres Jakarta Selatan Kompol Vivick Tjangkung mengatakan, pada Senin (29/8/2016) dinihari, polisi mendatangi rumah milik pria yang disapa Aa Gatot tersebut.

Saat mendatangi rumah milik Aa Gatot itu, pihak keluarga pun bersikap kooperatif. Polisi pun akhirnya memeriksa kamar milik Aa Gatot itu dan ditemukan barang bukti yang diduga dimiliki Aa Gatot.

"Di lokasi itu ada keluarganya, ponakannya, pembantu, dan sekuritinya juga. Jadi bukan kami selonong seenaknya saja. Dan lokasi itu kediaman Gatot Brajamusti dan beliau seorang Ketua Parfi," ujarnya pada wartawan di Polres Jakarta Selatan, seperti dikutip SINDOnews, Senin (29/8/2016).

Saat datang, kata Vivick, di lokasi pun sudah ada anggota Resmob Ditreskrimum Polda Metro Jaya yang saat itu tengah melakukan penggeledahan di rumah Aa Gatot.
Anggota Resmob itu lantas menyerahkan barang bukti pada Polres Jakarta Selatan lantaran lokasinya berada di Jakarta Selatan.

"Di kamar Aa Gatot itu, ditemukan satu klip berisi kristal putih yang awalnya diduga shabu seberat 9,7 gram. Dan saat kami cek pagi ini, klip itu hasilnya negatif amphetamin (sabu), jadi itu bukan termasuk narkoba," tuturnya.

Dia menerangkan, selain klip tersebut, polisi juga mengamankan barang bukti lainnya, berupa dua tablet warna biru dan tiga pil yang diduga ekstasi.

Lalu ada suntikan insulin yang masih baru sebanyak 35 suntikan dan dua buah suntikan insulin bekas pakai. Jarum suntik baru sebanyak 115 batang, 30 korek gas.

Kemudian, empat bong lengkap dengan selang alat penghisap, alumunium foil, cairan infus dalam botol sisa pakai dua buah, alat timbang elektrik dua buah, alat bantu sex warna merah muda berupa fibra, cangklong bekas pakai, dan dua tablet pil KB, dan dua buah suntikan bekas pakai, botol penambah elektrik gas, dan empat one lock yang gunanya sebagai suntikan cek darah.

"Semua itu merupakan barang bukti yang diduga narkoba. Tapi itu belum bisa dipastikan apakah narkoba ataukan bukan. Sebab sedang diperiksa di lab. Seperti pil, itu kan baru dugaan saja ekstasi, tapi belum dipastikan yah," paparnya.

Selain barang bukti tersebut, tambah Vivick, polisi juga mengamankan senjata api dan juga lima ratus butir peluru yang kini berada di Resmob Ditreskrimum Polda Metro Jaya.

Namun, semua barang bukti yang didapatkan dari kediaman Aa Gatot itu Aan dikumpulkan dan diserahkan ke Polres Mataram lantaran Aa Gatot ditangkap di Mataram.

"Keluarga belum tahu itu untuk apa. Keluarga dilarang masuk kamar oleh yang bersangkutan. Kalau dari Aa Gatot kami belum tahu karena kami kan belum bertemu yah," tutupnya. [Sindonews/Red*]

Kinerja SKPD Sukabumi Lemah, DAU Ditahan.

--Gambar-Ilustrasi--
SukabumiNews, SUKABUMI - Akibat lemahnya penyerapan anggaran oleh setiap satuan kerja perangkat daerah (SKPD), Dana Alokasi Umum Daerah (DAU) untuk Kabupaten Sukabumi oleh pemerintah pusat diendapkan.

Hal tersebut dikatakan Wakil Ketua DPRD Kabupaten Sukabumi, Jaenudin kepada Wartawan, seperti dikutip radar sukabumi, kemarin (26/8).

Meskipun sebetulnya menurut Jaenudin, penundaan DAU itu lebih kepada hukuman yang dijatuhkan pemerintah pusat kepada Kabupaten Sukabumi. Karena banyak anggaran yang tidak bisa diserap.

“Jadi pemerintah pusat menilai, Pemerintah Kabupaten Sukabumi ini tidak patsun terhadap instruksi dari pusat. Makanya, sebagai konsekuensinya, DAU ditahan,” katanya.

Dijelaskan Jaenudin, Kabupaten Sukabumi setiap bulannya mendapatkan anggaran DAU sebesar Rp170 miliar dari pemerintah pusat.

"Seharusnya, anggaran sebesar itu dapat diserap oleh seluruh SKPD. Namun kenyataannya, SKPD tidak mampu menyerap anggaran tersebut." terangnya. [Red***]

Kabar Duka: Wartawan Galamedia di Sukabumi Tutup Usia

#sukabumiNews, SUKABUMI – Salah satu wartawan Galamedia di Sukabumi meninggal dunia. Ia adalah Ahmad Junaedi yang meninggal di usia 40 tahun, Kamis (25/8/3016) sekitar pukul 2.30 WIB.

Menurut Rudi Samsidi, adik almarhum, almarhum (kakaknya) meninggal akibat sakit liver yang diidapnya. Bahkan sebelum meninggal, ia (kakanya) itu sempat dirawat di salah satu rumah sakit swasta di Sukabumi. “Dua hari kebelakan sebelum meninggal, Aa sempat dirawat di salah satu rumah sakit swasta, di Sukabumi,” ujarnya kepada sukabumiNews, di rumah duka.

Atas nama keluarga dirinya meminta maaf kepada seluruh masyarakat di Sukabumi. "Terutama kepada yang sering diwawancara beliau saat masih ada," ucap Rudi.

"Demikian pula pada teman-teman wartawan seperjuangannya."Tambah adik almarhum. Selain itu, pihak keluarganya pun berharap, agar semua yang mengenali dan dekat dengan almarhum agar mau memaafkan apabila ada hilap maupun kesalahan yang pernah diperbuatnya semasa ia masih hidup. (Kru***)

Hiswana Migas Gelar OP Gas Melon di Sukabumi

sukabumiNews, SUKABUMI — Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas) Sukabumi menggelar operasi pasar (OP) gas elpiji tiga kilogram di Kabupaten Sukabumi. Di daerah tersebut Hiswana Migas melakukan OP di 22 titik berbeda.

‘’Kami melakukan OP di puluhan titik untuk membantu warga yang kesulitan mendapatkan gas,’’ ujar Ketua Hiswana Migas Sukabumi Yudha Sukmagara kepada wartawan, seperti dikutip ROL, Rabu (24/8).

Jumlah tabung gas yang disalurkan mencapai sebanyak 12.320 tabung per hari. Rencananya, terang Yudha, pelaksanaan OP ini dilakukan dalam dua hari.

Daerah yang melaksanakan OP antara lain Kecamatan Sukabumi, Cibadak, Gunungguruh, dan Surade. Diterangkan Yudha, kasus kelangkaan gas elpiji ini sudah terjadi sebanyak tiga kali pada 2016. Fenomena ini lanjut dia tengah ditelusuri penyebabnya.
Dugaan awal ungkap Yudha, ada sejumlah warga menengah ke atas yang masih menggunakan tabung gas elpiji tiga kilogram. Seharusnya, gas melon tersebut hanya digunakan kalangan menengah ke bawah. Ke depan lanjut Yudha, diperlukan peningkatan pengawasan oleh sejumlah pihak terkait.

Upaya ini untuk menekan adanya penggunaan gas elpiji oleh sejumlah pihak yang tidak berhak. Yudha menerangkan, setiap bulannya kuota tabung gas elpiji untuk Kabupaten Sukabumi mencapai sebanyak 1.600.000 tabung. Sementara untuk Kota Sukabumi kuotanya mencapai 600.000 tabung per bulan.

Jumlah tersebut akan ditambah bila terjadi kekurangan dengan adanya persetujuan dari Pertamina.

Pemerintah Memutuskan"SIM" Tidak Perlu Lagi diperpanjang..!!!

Tolong Bantu SHARE Agar Semua Orang Tau...! >

sukabumiNews, SETELAH sebelumnya pemerintah memutuskan langkah yang populis, yakni Kartu Tanda Penduduk (KTP) Elektronik berlaku seumur hidup, sekarang muncul keputusan baru yaitu SIM tidak perlu diperpanjang. Ketentuan ini diberlakukan bagi SIM A,B mau pun C.

Seperti diketahui, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahyo Kumolo, Jumat tanggal 29 Januari 2016  telah menerbitkan dua Surat Edaran  (SE) terkait perberlakuan KTP Elektronik yang berlaku seumur hidup. Di mana, dalam SE bernomor 470/295/SJ tersebut, ditujukan pada para Menteri Kabinet Kerja dan pimpinan lembaga  non kementerian. Sedangkan SE bernomor 470/296/SJ yang juga dikeluarkan tertanggal 29 Januari 2016, ditujukan pada Gubernur dan Bupati/Walikota seluruh Indonesia.

Dengan keluarnya keputusan tersebut, maka seluruh pemegang KTP Elektronik tidak perlu repot- repot memperbaharuinya. Bila ada kepala daerah yang nekad mengeluarkan beleid perpanjangan, hal tersebut sangat diharamkan. Dua SE yang dikeluarkan oleh Tjahyo Kumolo itu merupakan tindak lanjut atas berlakunya Undang- undang Nomor 24 tahun 2013 tentang Perubahan atas Undang- Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan.
Tak pelak lagi, kebijakan yang populis ini direspon positif oleh seluruh rakyat Indonesia. Berbeda dengan keputusan mengenai berlakunya KTP Elektronik seumur hidup yang terpublikasi secara besar- besaran, kebijakan tak perlu memperpanjang SIM dilakukan minim pemberitaan. Entah apa yang menjadi pertimbangan, yang jelas, baru di lingkungan terbatas saja yang mengetahuinya. Bahkan, berita ini berkembang melalui mulut ke mulut.

Perpanjangan SIM, baik A (untuk mobil), B (kendaraan besar) dan C (sepeda motor) dianggap bakal sangat merepotkan masyarakat pengguna jalan raya.Implikasinya, gelombang protes dipastikan akan berdatangan ke pihak Kepolisian RI. Terkait hal tersebut, beleid resmi diambil, yakni tidak perlu diperpanjang. Berdasarkan keterangan, perpanjangan SIM nantinya sangat menyusahkan penggunanya. 

Ukuran SIM sekarang yaitu  lebar 5 centimeter dan panjang 8,5 centimeter atau seukuran kartu ATM, dianggap sangat  sudah sangat ideal untuk disimpan di dompet berhimpitan dengan KTP mau pun tanda pengenal lainnya. Jadi, semisal bentuknya diperpanjang menjadi sekitar 20- 30 centimeter, yang tak bisa disimpan di dompet, potensi komplain akan membanjir saban hari. Ditambah , bahan bakunya juga boros.
Demikian diberitakan SEGALA-INFORMASI.COM

Sidang Kasus Tipikor PT. Tenjojaya Kembali Digelar

Terdakwa Terima Aliran Dana Rp. 149 Juta.
sukabumiNews, BANDUNG – Sidang kasus dugaan tindak pidana korupsi (tipikor) penghilangan aset negara eks HGU PT Tenjojaya, di Desa Tenjojaya, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi kembali digelar, Rabu (24/8).

Agenda sidang yang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Khusus Tipikor Bandung kali ini yakni pembacaan jawaban eksepsi.

Dalam pembacaan jawaban eksepsi itu, terdakwa S dan SH disebut-sebut menerima aliran dana dari kuasa Direksi PT Tenjojaya, UE, sebesar Rp149 juta.

“Berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap kedua terdakwa, diketahui, S dan SH ini menerima uang sebesar Rp149 juta dari terdakwa UE,” ujar Jaksa Penuntut Umum, Adelina di persidangan.

Uang yang diterima oleh kedua terdakwa diduga merupakan hasil transaksi jual beli aset negara berupa tanah seluas 299 hektare yang berada di Desa Tenjojaya, Kecamatan Cibadak,

Pada saat transaksi, selain menjabat sebagai Kades Tenjojaya, terdakwa yang berinitial 'S' itu juga masuk dalam anggota pemeriksaan tanah A. Sementara SH saat itu menjabat sebagai camat dan juga PPATS.

“Ia ikut menandatangani surat pernyataan tidak ada sengketa dan pelepasan hak tanah di depan terdakwa SH dan UE," jelas Adelina.

"Akibat perbuatan melawan hukum ini, negara dirugikan miliaran rupiah,” tegasnya. [Red**/Bait Elyas].

Beda Dengan Alam Nyata, Ini Pembunuh Mirna Salihin Dari Hasil Penerawangan

sukabumiNews: SIDANG kasus kopi beracun dengan terdakwa Jessica Kumala Wongso terus bergulir, dari mendengarkan keterangan saksi, sidang juga digelar dengan memeriksa rekaman CCTV dari kafe Olivier. Meskipun demikian belum ada vonis

Dalam CCTV itu merekam peristiwa saat Jessica diduga memasukkan racun sianida ke dalam gelas korban Wayan Mirna Salihin. Sidang kasus pembunuhan dengan terdakwa Jessica tentu saja menyita perhatian publik.

Lewat tayangan langsung di sejumlah tv nasional, publik melihat jalannya sidang. Kasus pembunuhan yang menewaskan Mirna rupanya turut ditanyakan seorang netizen kepada mbah Mijan lewat media sosial Twitter.

Akun Twitter bernama A shafira_esha menanyakan prihal pelaku pembunuhan yang menewaskan Wayan Mirna Salihin.

“@mbah_mijan Mbah m tanya sebrnya jesica itu bnran yg ngeracun mirna? Apa ada org lain? Jd bingung lihat d tv tv hmmmmm” tanyanya kepada Mbah Mijan.

Tak beberapa lama kemudian Mbah Mijan menjawab pertanyaan tersebut dan jawaban Mbah Mijan ternyata mengejutkan.

Mbah Mijan menyebut kalau pelakunya sudah jelas dan rupanya pembunuhan Mirna menurut Mbah Mijan serupa dengan kasus yang dialami Munir dan seseorang yang disebut mbah Mijan denga inisial ‘Bisul’.

Beberapa waktu lalu mbah mijan menyebut kata ‘Bisul’ saat menanggapi meninggalnya ketua KPU Husni Kamil Manik.

Siapa lagi,,, dari celana yang dibuang, dah jelas. Sianida, Munir dan “bisul” serupa, hanya tunggu pengadilan Tuhan.”

“Hampir tiap hari ditanya soal film “Kopi Racun” yang di bintangi Jessica dan Otto, rata-rata bertanya soal endingnya mau kemana…???,” cuit dia melalui akun Twitternya Minggu malam (21/8).

“Ending film “Kopi Racun Sianida” pemeran terdakwa akan tetap di dalam penjara, karena 99,9% saya menduga Jessicalah pelakunya,” lanjut dia.

Mbah Mijan yakin hakim yang menangani perkara Jessica sudah mantap menentukan Jessica sebagai pelakunya.

“Kalau sudah bicara bahasa hukum, memang tidak mudah! tapi mereka akan ingat bahwa, barang bukti adalah urutan ke 4, setelah ada poin 1,2,3,” tambah pria yang dikenal dekat dengan sejumlah artis itu.

Hasil penerawangannya, lanjut dia, hakim sejatinya sudah tahu dan tinggal mengetuk hukuman buat Jessica.

“Sedangkan di film “Kopi Racun Sianida” poin 1, 2 dan 3 sudah ada, lengkap dan jelas. Berikutnya tinggal ketukan hati dan ketukan palu Hakim,”pungkas Mbah Mijan seperti dilansir Jawa Pos.
Pengakuan Jessica bisa bunuh orang

Sekadar info tambahan, Jessica Kumala Wongso sempat mengaku kepada temannya, Kristie Louise Carter, bahwa ia bisa saja bunuh diri dan membunuh orang menggunakan pistol atau racun. Ucapan itu diceritakan ulang oleh Kristie kepada ahli psikiatri, Natalia Widiasih Rahardjanti, saat diperiksa di Australia beberapa bulan lalu.

“Jessica bilang ke Kristie, ‘Bisa saja saya ambil pistol atau ambil racun’,” kata Natalia saat bersaksi di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada Kamis, 18 Agustus 2016 lalu. Saat itu Jessica bertutur dalam konteks upayanya hendak bunuh diri sejak Januari 2015. Jessica saat itu menghadapi masalah dengan pacarnya, Patrick.

Saat itu Jessica dirawat di rumah sakit karena percobaan bunuh diri. Natalia sebagaimana diberitakan Tempo juga telah memverifikasi informasi itu kepada pihak kepolisian di Australia. “Para bang*at itu belum mengizinkan saya pulang,” kata Natalia, menirukan cerita Kristie.

Jessica juga menjelaskan, bisa saja ia meracun seseorang dengan dosis yang tepat. Tapi dia tak menjelaskan racun jenis apa yang akan digunakan. Jessica saat itu diketahui tertekan. Apalagi dia mengaku keluarga tak pernah mendukungnya.

Bahkan Jessica juga sempat mengaku kepada teman-temannya di Australia tak memiliki keluarga di Jakarta. Padahal saat itu teman-temannya berinisiatif membawanya pulang ke Indonesia. Mengingat Jessica berulang kali mencoba bunuh diri, bahkan menabrak panti jompo dalam kondisi mabuk.

Natalia menceritakan, saat itu kondisi psikologis Jessica dalam keadaan tertekan. Hal inilah yang menyebabkan ia menjadi seorang yang impulsif dan ingin lari dari masalah. Puncaknya, Jessica kemudian memutuskan kembali pulang ke Indonesia.

Kepada Natalia, Jessica mengaku pulang ke Indonesia dalam rangka berlibur. Ia mengatakan hal serupa di hadapan media massa. Tapi, menurut Natalia, teman-teman Jessica bilang bahwa dia ingin pergi dari Australia karena memiliki masalah dengan pacarnya.

sumber: suaranews

TAX AMNESTY Alami Disorientasi dan Salah Sasaran

sukabumiNews, JAKARTA - Hingga pekan ketiga Agustus 2016, dana hasil program Tax Amnesty yang diterima pemerintah baru mencapai Rp 665 miliar. Angka ini masih jauh di bawah target pemerintah Rp 165 triliun. (detikcom)

Salah satu penyebabnya dinilai karena konsep Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang getol mensosialisasikan tax amnesty (pengampunan pajak) di kota-kota besar dalam negeri dinilai salah sasaran dan telah mengalami disorientasi.

Sekretaris Jenderal Forum Indonesia Untuk Transparansi Anggaran (FITRA) Yenny Sucipto mengatakan, sosialisasi Presiden Jokowi terkait tax amnesty juga dinilai salah sasaran, karena hanya disosialisasikan di dalam negeri.

"Ini murni marketing, karena seharusnya pemerintah sosialisasi itu ke luar negeri. Bukan malah ke distrik-distrik dalam negeri yang disebut kota-kota besar itu," kata dia di kantornya, seperti dikutip Sindonews.

Yenny menuturkan, hal ini termasuk sosialisasi yang sia-sia, karena sebetulnya yang memiliki uang banyak yakni orang-orang di luar negeri. Seharusnya pemerintah fokus sosialisasi luar negeri.

"Konglomerat-konglomerat itu punya uangnya di luar negeri. Kalau misalnya Presiden hanya gembar gembor di dalam negeri, mau menyasar siapa?" ujarnya.
Di dalam negeri, lanjut dia, para pelaku usaha kebanyakan yang mendirikan UMKM. Dengan sosialisasi kepada kalangan ini, maka dikhawatirkan dana repatriasi yang didapat akan sedikit.

"Karena kan aset mereka tidak terlalu banyak, karena usaha mereka juga bentuknya UMKM. Ini benar-benar salah sasaran sekali," pungkas Yenny.

Senada diungkap oleh pengamat, Hendrajit, yang disampaikan di akun facebooknya, Rabu (24/8).

"Sekarang Tax Amnesty sudah mulai salah sasaran dan dis-orientasi karena tidak sesuai maksud awal. Sasaran awal kan untuk menggiring masuk uang-uang yang diparkir di luar negeri melalui pengampunan pajak."

"Tapi karena antara skema dan skenario mulai disadari terjadi kesenjangan, tujuan bergeser ke pengusaha kecil dan menengah untuk menggencet mereka dengan instrumen pajak. Jelas ini bukti nyata terjadinya dis-orientasi," ujar Hendrajit.

"Persis kayak Kopkamtib zaman Orde Baru dulu. Maksudnya lembaga keamanan ini untuk membendung ancaman nasional dari luar dalam segala bentuk dan perwujudannya, malah bergeser jadi menginteli orang orang yang kritis terhadap kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat atau malah masuk perangkap skema asing," ungkapnya. Red/***

Sosok Nur Alam, Gubernur Sulawesi Tenggara Tersangka KPK

sukabumiNews:: KOMISI Pemberantasan Korupsi (KPK) akhirnya sudah menetapkan Gubernur Sulawesi Tenggara Nur Alam sebagai tersangka.

Nur Alam diduga melakukan penyalahgunaan wewenang dalam pemberian izin pertambangan nikel di dua kabupaten di Sultra selama 2009 hingga 2014. Siapa Nur Alam?

Masa Kecil

Seperti dikutip dari butonsultra.com, Nur Alam kecil dibesarkan dalam lingkungan keluarga sederhana, ditengah alam pedalaman asri bersama tiang-tiang jenggala rindang yang penuh duri, tapi teguh memagari jalan-jalan setapak tak beraspal dan tak bernama. Di sebuah pondok berdiding papan sederhana di Konda, Nur Alam lahir dari rahim suci seorang perempuan biasa, Hj. Fatimah, diasuh dan dibesarkan oleh ayahnya, Isruddin Lanay, seorang Mantri Kehutanan di era Soekarno.

Nur Alamkecil yang sering dipanggil Bolo – nama kakeknya itu, tumbuh sebagai anak yang lincah dan gesit bersama anak-anak lainnya, dan selalu mengambil inisiatif lebih awal di depan sebelum yang lainya memulai sesuatu.

Nur Alam kecil mendaftarkan diri ke SD Negeri Konda atas inisiatif sendiri, sebelum kemudian difasilitasi oleh orang tuanya. Saat duduk di bangku kelas II hingga kelas VI SD, Nur Alam kecil menggunakan nama Andi di depan namanya, hingga menjadi Andi Nur Alam. Sayangnya gelar Andi itu, yang diberikan oleh salah satu pamannya yang beretnik Bugis, tak sempat dipakai Nur Alam seterusnya karena sang guru menghapusnya saat menulis ijazah terakhir usai menamatkan bangku SD.

Duduk di bangku SD Nur Alam kecil punya hobi memetik kelapa bersama kakak-kakaknya. Selain kelapa, ia jug sering ikut memetik buah kemiri dari kebun milik ayahnya untuk dijual kepasar. Dari sini, ia memperoleh uang receh untuk jajan, juga kadang buat mentraktir teman-temannya.
SMP, Jalan Kaki 5 KM ke Sekolah

Nur Alam kecil mulai meretas kehidupan yang penuh dinamika ketika masuk SMP, tepatnya di SMP Negeri Ranomeeto. Selama setahun, nyaris setiap hari ia harus bolak balik berjalan kaki 5 km bersama anak-anak lainnya menempuh rute bolak balik Konda – Ranomeeto. Ia harus bangun subuh setiap harinya untuk mengejar waktu ke-sekolah. Berangkat ke sekolah pukul 5 subuh, suasana pedalaman ketika itu tentunya masih sangat gelap. Tapi ia tetap menembus dengan obor kecil.

Memasuki bangku kelas II, Nur Alam pindah ke SMP Negeri III Wua-Wua dan tinggal di rumah pamannya di Mandonga. Tinggal di sekitar pasar ‘lama’ Mandonga, Nur Alam kecil punya ide menarik. Sambil bersekolah, ia sewaktu-waktu pulang ke Konda memetik kelapa, kemiri dan hasil kebun lainnya untuk dibawa dan dijual kepasar. Dari sini, ia mendapatkan sedikit uang buat membiayai kebutuhan sekolah dan sebagiannya buat jajan di kantin sekolah.

Duduk di bangku SMP Nur Alam kecil mulai menunjukkan banyak talenta. Ia menjadi juara lomba pidato dan oleh gurunya ia ditunjuk mewakili SMP Negerri III Wua-wua untuk mengikuti lomba kepanduan (pramuka) tingkat Nasional di Cibubur, Jakarta. Sayang sekali, baru saja hendak merangkai talenta kepemimpinan di jalur kepanduan itu, Nur Alam kecil harus menerima nasib sedih. Ia ditinggal pergi sang ayah ketika masih berada di bumi perkemahan Cibubur. Beberapa hari kemudian ia kembali ke Kendari dalam status sudah yatim.

SMA di Kendari, Punya Usaha Sablon

Tahun 1981 Nur Alam masuk SMA Mandonga. Di sekolah yang tergolong keren di Kendari saat itu, ia banyak bertemu teman baru, termasuk siswa-siswa tetangga di SMEA dan STM Negeri Kendari. Sebagai anak yatim yang telah ditinggal pergi sang ayah, ia mulai memikirkan kelanjutan sekolahnya nanti. Ia tak harus menambah beban ibundanya yang memang tengah hidup susah karena hanya mengandalkan gaji pensiun mendiang suaminya.

“Saya harus belajar bisnis. Mama juga sudah setengah mati. Saya tidak boleh berhenti sampai SMA,” kenang Nur Alam saaat berkisah tentang masa-masa SMA-nya. Ia lalu merintis usaha sablon kecil-kecilan. H. Nusu Ibrahim, salah seorang rekan Nur Alam di SMA Mandonga ketika itu pernah bercerita bahwa dulunya, i Bolo (Nur Alam maksudnya), punya usaha sablon. Ia kadang tidak masuk disekolah gara-gara sibuk mencari order di luar.

Sumber: ISLAMPOS
 

Google+ Followers

Advertise